Senin, 14 November 2016

Cerpen Dewasa
Bunga Tampa Nama
Aku, aku adalah seorang manusia yang datang mencari dirimu yang yang ternyata mencari orang lain. Aku adalah seorang nelayan yang memancing menggunakan sebuah kail yang jauh lebih buruk dari pada nelayan yang memancing menggunakan jaring. Tapi kenapa kau tidak pernah memberiku sedikit ikan yang bisa kusantap dan menenangkan jiwaku? Kau datang hanya untuk “menghargai”.
Siang di depan kelas Wulan termenung lesu dengan wajah galaunya.
“Hi, Lan”. sapa Rehan bahagia.
“Iya Han, kenapa?”
“Eh, kok galau kali kau?”
 “Gak aku gak kenapa, udahlah jangan terlalu merhatiin aku!” ucap Wulan ketus.
“Eh, kalo ada masalah cerita dah!. Gak baik lho di pendem pendem ”.  Balas Rehan dengan senyuman manisnya.
“Makasih Han tapi sebelumnya  aku  siapanya kamu Han? Seenaknya kamu ngatur hidup aku ”.
“Iya emang aku bukan siapa-siapnya kamu Lan, tapi stidaknya aku tu perhatian ke kamu! ”.
“Udahlah Han jangan sok berlebih!”. Jawab Wulan kemudian pergi meninggalkannya.
Aku saadar aku bukanlah siapa-siapa bagi Wulan. Aku hanyalah seorang teman yang memberikan perhatian lebihku untuknya. Walaupun aku tau di dunia ini terdapat Farell anak dance yang menjadi  idola Wulan di sekolah.
Tak ku sangka tiga bulan mereka kenalan hingga akhirnya mereka pun jadian. Niat ku untuk mendekati Wulan pun menjadi sedikit berkurang. Sakit memang mendengarnya tapi mau bagaimana lagi aku tidak memiliki hak untuk itu, hak untuk mendapatkan kasih sayang, hak untuk mendapatkan cinta darinya pun kini telah hilang.
Semakin hari sikap Wulan pun semakin ketus dan jutek  terhadapku, hingga aku pun merasa seperti bukan lagi seorang teman baginya.
“hi Lan”. Sapku tegas.
“Iya kenapa?”. Jawab Wulan.
“Gak kenapa, ku cuman pengen tau kenapa kamu mulai ngejauh sekarang”            .
“memmangnya aku harus dekat dengan mu? Sedekat adik kakak kah atau pacar?. Gak, kamu salah besar!. Sadar Han , aku udah punya pacar, jadi sebaiknya kamu gak usah ngedeketin aku lagi!”. Balas Wulan menyindir.
“Tapi lan, gak bisa kah kau memberikan sedikit kesempatan untukku?
“Kesempatan apa Han? Dikalau memang ada ku takkan memberikannya untukmu Han!”
“Tapi Lan?”
“Gak ada namanya tapi Han!”
 “Walaupun kamu seperti ini tapi aku akan selalu ada untuk mu Lan!”
“Tersera kamu Han, aku mau pergi. Udah terlambat gara-gara kamu!”
Sejak saat itu hubungan Rehan dan Wulan pun tidak kelihatan sedikit apapun, bahkan mendengar perkataan Wulan hari itu membuat Rehan yang dulu Terbang tinggi dengan sejuta mimpinya harus jatuh dengan kerasnya di atas batu tampa tuan. Tubuhnya memang masih utuh tapi sadarkah bahwa hatinya telah hancur berkeping-keping.
Hingga suatu saat Wulan pun jatuh sakit, ginjalnya mengalami kerusakan parah sehingga ia di fonis tidak akan bisa hidup lebih lama lagi, kecuali ada yang mendonorkan ginjal untuknya. Mendengar hal tersebut Farell pacarnya pun meninggalkannya dan mencari kekasih lain. Tapi tidak dengan Rehan, Ia pun akhirnya datang mengorbankan jiwanya dan mendonorkan kedua ginjalnya demi kesembuhan Wulan pujaan hatinya. Wulan pun akhirnya sembuh dan kembali sehat. Tetapi setelah mendengar bahwa yang mendonorkan ginjal untuknya adalah Rehan , betapa sedih dan deru tangisan yang dikeluarkannya. Apalagi setelah membaca surat yang di tulis Rehan sebelum ia mendonorkan ginjalnya.
“Hi Lan, membaca surat ini berati kamu udah sembuh, dan sehat. Seneng kan? Tapi sayang aku gak bisa liat  kamu sekarang, ga bisa liat kenyataan langsung. Ku hanya bisa melihat dari atas sini, dari surga Lan!. Sayang sekali aku gk bisa bicara dan ngobrol lagi dengan kamu sama seperti waktu di sekolah. Sayang aku gak bisa  liat wajah kesel kamu ketika aku deketin kamu Lan. Sayang kamu gak akan pernah bisa ngeliat wajah aku lagi, tapi apa daya Lan, disini aku masih menyayangimu, masih seperti yang dulu dan inilah bukti dari itu semua. Semoga kamu bahagia dengannya, sekarang udah gak ada aku lagi Lan, aku yang selalu mengganggu hari-harimu. Tetep senyum yah!, doain aku biar aku bisa bahagia di ats sini, di surga. Semangat Wulan, I Love You”
Membaca surat tersebut Wulan langsung menangis dengan tersengi-sengi. Tapi apa daya penyesalan selalu datang di akhir. Sekarang tidak adalagi yang namanya Rehan apalai Farell, yang ada hanyalah kenangan Rehan yang tak pernah di hargai seperti Bunga Tampa Nama.      
    

Karya : I made yogi windu saputra

2 komentar: